Semakin atheis-agnosis, saya semakin merasa lebih baik dan beriman. Sebuah paradoks? Atau sebuah via negativa? Entahlah. Yang pasti, ketika saya membiarkan hati dan pikiran saya selalu terombang-ambing dan larut dalam brainstorm, saya semakin bersemangat untuk mencari kebenaran.

Bukan berarti saya tidak yakin dengan keberadaan Tuhan dan agama yang saya anut. Saya tidak mau menjadi orang yang statis. Pencarian akan menjadikan diri kita insan yang dinamis, yang selalu berusaha untuk mencapai derajat yang lebih tinggi dalam berkeyakinan. Guru saya pernah berkata, “Keyakinan yang dicari akan terasa lebih mantap.” Ya, suatu kebenaran, suatu keyakinan, akan terasa lebih bermakna jika kita benar-benar berusaha mencarinya dan mampu membersihkannya dari noda-noda yang menyelubunginya.

Advertisements

10360

 

Berkat keseloan saya di liburan ini, ketika membongkar kembali folder foto saya menemukan foto ini, foto para personel kelas J (atau biasa ditulis Jhe). Saya masih ingat saat pertama kali memasuki kelas ini dan memperkenalkan nama saya, kemudian ditertawakan oleh seisi kelas karena nama saya sama dengan nama bapaknya Tomo. Kelas yang berisi orang-orang yang turut andil dalam pemikiran dan tingkah laku saya yang cukup barbar dan turut menyeret saya ke jurang kemaksiatan. Kelas yang seakan tidak mau kalah dengan kelas sebelahnya dalam hal tingkah laku aneh, salah satu penguasa lapangan tengah dan atap aula, serta terlibat dalam sindikat pencurian dan penyelundupan bola sepak.

Kami beruntung bisa menempati sebuah ruang yang termasuk salah satu ruang kelas terluas di SMP kami. Ruang kelas kami tentunya menyimpan berbagai macam cerita, mulai dari yang menyenangkan (pastinya), menyedihkan (gagal ngintip celana dalam adik kelas), dan menegangkan (contohnya saat melempar seorang guru dengan gumpalan kertas, maafkan kami, Pak). Kalau kelas I punya sepatu-sepatu yang berserakan di belakang ruang kelas, lalu kelas D punya poster-poster pemain bola, kami memiliki ‘tenda darurat’ dan lukisan zaman prasejarah di bagian belakang kelas. Tak lupa dengan kaca jendela yang sudah dua kali dipecahkan oleh salah satu teman kami, entah dengan alasan apa.

Selain hal-hal di atas, dari kelas ini saya juga belajar satu hal, di balik tingkah laku kita yang barbar, kita tetaplah harus sembada. Coretan prasejarah kita boleh saja terhapus,tetapi kenangan dan pelajaran akan tetap terpatri dalam jiwa kita.