Semakin atheis-agnosis, saya semakin merasa lebih baik dan beriman. Sebuah paradoks? Atau sebuah via negativa? Entahlah. Yang pasti, ketika saya membiarkan hati dan pikiran saya selalu terombang-ambing dan larut dalam brainstorm, saya semakin bersemangat untuk mencari kebenaran.

Bukan berarti saya tidak yakin dengan keberadaan Tuhan dan agama yang saya anut. Saya tidak mau menjadi orang yang statis. Pencarian akan menjadikan diri kita insan yang dinamis, yang selalu berusaha untuk mencapai derajat yang lebih tinggi dalam berkeyakinan. Guru saya pernah berkata, “Keyakinan yang dicari akan terasa lebih mantap.” Ya, suatu kebenaran, suatu keyakinan, akan terasa lebih bermakna jika kita benar-benar berusaha mencarinya dan mampu membersihkannya dari noda-noda yang menyelubunginya.